Apakah kau pernah merasakan saat kau mencintai seseorang, kau hanya bisa diam dan berharap dia akan mengetahui tanda - tanda yang kau berikan?
Ataukah, kau mencintai dia, dekat dengannya, tapi kau tak bisa berbuat apa-apa karena dia t'lah mempunyai seorang pacar, dan kau juga tahu kalau dia bahagia dengan pacarnya, tapi mengapa kau tak bisa berhenti untuk mencintainya?
Ini adalah kisahku....
Hari ini adalah hari pertama aku belajar di sekolah baruku SMP Negri 1 Banggai. Aku kembali ke kota yang penuh dengan kenangan, ya aku kembali. Teman lamaku menyapaku dan teman baruku juga tentunya. Ini hari pertama, jadi aku masih malu dengan penampilanku yang sedikit berbeda dengan mereka. Teman-teman ku juga dengan semangat memberitahukan peraturan-peraturan yang ada disekolah, gila banyak banget, gak boleh ini lah, gak boleh itu lah. Ya hari ini tidak terlalu buruk, kecuali dengan teman laki-laki ku dulu yang selalu iseng ngejek aku mulu.
Pulang sekolah melewati jalan penuh kenangan, sesekali bercanda, kejar-kejaran,beli minuman, pokoknya bahagia deh..
Sampai di rumah ganti baju, baring-baring, makan siang, nonton, tidur siang, sorenya online, nunggu maghrib, malamnya online sambil chat ama teman nanyain jadwal pelajaran, dan semuanya sungguh membosankan..
Halooo...Pagi
Hari ini hari kedua. Sampai di sekolah hanya bisa duduk di bangku sambil ngeliatin orang ngobrol, entahlah itu ngobrol atau gosip. Tiba-tiba teman bangku aku datang, ngajak cerita oh ya namanya Fahri, dia teman dulu waktu SD jadi deketlah trus dia orangnya gitu deh deket ama perempuan, kemana - mana ama perempuan. Eh tiba-tiba datang Acid teman waktu SD juga. Kita cerita-cerita tentang pacarlah, tentang kakak, tentang masa waktu SD dulu. Karena mereka berdua aku gak kayak tadi sendirian mirip patung. Cerita kita berhenti dengan suara bel tanda masuk.
Aku masih malu untuk keluar saat istirahat, batik yang aku pakai berbeda dengan mereka, kata gurunya sih udah habis. Jadi aku cuma bisa berdiam diri di kelas. Eh tiba-tiba seseorang datang ngajak aku bercanda, terus bicaranya ngaur banget. Dia teman SD juga jadi deket gitu. Oh ya dia itu orang yang aku suka dari SD sampai sekarang. Aku seneng banget pas dia nyamperin aku, cerita bareng aku. Seneng bangetlah pokoknya.
Hari - hari yang aku jalani baik-baik saja. Oh ya nama orang itu hmmm gak usah di sebutin ya sebut aja dia Doi. Doi slalu senyum padaku dengan senyuman aduhh bikin meleleh. Doi juga biasa liatin aku. Ya terus terang aku kegeeran.
Aku bingung dengan perasaanku, dengan keyakinanku. Hal itu yang membuat ku untuk membagi kisahku pada temanku namanya Rafi. Aku cerita semua dari awal, dari dia ngajak aku bicara, dari dia senyumin aku, pokoknya semuanya. Aku bingung sebagai wanita bagaimana caranya untuk mengungkapkan padanya. Kata Rafi aku hanya terus menungggu dan memberi dia kode. Hal itu aku lakukan.
Hari-hari terus berjalan. Dan semakin lama senyuman manis itu hilang menjadi senyuman biasa saja. Saat Doi lewat tidak seperti dulu yang sering menyapa, melihat wajahku saja tidak. WHY??tapi aku masih dengan setia menunggu. Mungkin saja ia ada masalah tapi aku terus bertanya. Sampai pada siang itu, pulang sekolah bersama teman-temanku.
"Nisa siapa sih itu yang lu statusin di sosmed?
"Hmmm ada deh, tebak aja"
"Gue tau kok siapa?"
"Siapa?"
"Sini gue bisikin.Pasti Doi kan"
aku ketawa dan menjawab "iya"
"Tapi dia udah punya pacar, teman sekelasku"
Jujur aku kaget "ouh, ya biarin. Gue juga udah gak punya rasa kok sama dia" kataku berbohong.
"oh yaudah, lo yang sabar ya"
Sampai di rumah aku terus memikirkan apa yang dikatakan temanku tadi. Pantas saja dia menjauhiku, pantas senyuman itu hilang. Siapa pacarnya itu ya? Jujur saja hati ini sakit banget. Aku slalu bertanya kenapa oranglain slalu mudah mendapatkan orang yang ia cintai sedangkan aku apakah harus sesakit ini mencintai seseorang? Apakah karna Tuhan terlalu baik padaku sehingga Ia tak ingin aku bersama orang yang aku cintai tapi orang itu tak baik untukku? Atau apakah aku yang salah, karna tak mengungkapkannya saja? Ini semua karna menunggu. Menunggu sesuatu yang tak pasti. Menunggu kebingungan. Menunggu kebenaran. Aku menunggu terlalu lama. Menunggu apakah Ia akan menjadi milikku? Apakah wanita hanya bisa menunggu tapi tak bisa mengungkapakan? Ini pelajaran berharga dalam hidupku. Bahwa menunggu bukanlah solusi dari segalanya.
Sampai saat ini, rasa ini masih terkubur dengan baik di hatiku. Walaupun aku tahu Doi bahagia dengan pacarnya, dan itu membuatku sakit. Tapi cinta ini masih utuh untuknya. Tapi aku sama skali tak seperti dulu yang slalu berharap, berharap dia akan menjadi milikku. Terima kasih tlah mengajarkanku apa artinya menunggu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar